26 Januari 2010

Terbatas

“Apa yang diketahui adalah terbatas, yang tak diketahui adalah tidak terbatas, secara rasional kita berdiri di atas pulau kecil di tengah lautan tanpa batas yang tidak dapat dijabarkan.” —Thomas Henry Huxley (1825-1895)
Setiap gunung, sungai, dan lembah, semua binatang dan umat manusia—yang dulu, sekarang dan yang akan terjadi di masa depan, mereka semua pada suatu ketika pernah menyatu dalam sebuah titik api kecil. Itu adalah suatu titik yang memiliki kepadatan yang tak terbatas, sehingga daya imajinasi kita ini mungkin tidak akan pernah mampu memahaminya sama sekali. Jutaan milyaran ton materi yang digabungkan dengan energi yang besar dari alam semesta, mulai mengembang dan pecah dalam suatu ledakan mahabesar sekitar 20 milyar tahun yang lalu.
Dibandingkan dengan Big Bang (Ledakan Besar), maka suara ledakan dari bom atom yang dianggap paling dahsyat oleh manusia, hanyalah seperti suara nyamuk yang terjatuh di tanah pada sisi lain dari planet bumi. Pengembangan yang konstan dari semua yang ada itu telah merubah alam semesta menjadi sup plasma, secara berangsur-angsur bertransformasi ke suatu kondisi yang terus meningkat, yang hampir sama dengan apa yang kita ketahui saat ini.
Kemudian materi ini lambat laun mendingin, membentuk quarks pertama, elektron, dan proton. Ratusan, ribuan tahun telah lewat, dan elektron dan nukleus bergabung membentuk atom, dan setelah itu, quasar, bintang, sekelompok galaksi, dan semua itu adalah alam semesta yang sudah kita kenali.
Di luar semua informasi yang didapat bertahun-tahun lewat penyelidikan ilmiah, maka fase alam semesta pada momen-momen pertama setelah ledakan hebat itu masih saja menjadi bahan perdebatan sengit.
Berbagai macam teori yang hanya berkutat dalam lingkup ilmu pengetahuan, bagai sedang mengurai benang kusut, saat mereka mencoba menjelaskan masalah keadaan quantum khusus pada fase primitif –peristiwa paling awal dari Big Badaboom. Hingga kini masih tidak ada satu pun jejak fisik yang meyakinkan yang dapat menjelaskan 10 – 33 detik pertama dari alam semesta itu.
Bila kita ingin mencoba memahami awal mula peristiwa ledakan penting ini, bahkan lebih kompleks. Semakin banyak yang kita tahu penyebab pasti dari setiap peristiwa dan secara berangsur-angsur pula kita menyadari bahwa sesuatu itu pasti memiliki penyebabnya, alasan dibalik mengapa alam semesta diciptakan, akan menjadi suatu teka-teki yang lebih besar lagi – mengungkap kebenaran yang terakhir.
Big Bang, Big Crunch, dan Siklus Tak Terbatas
Satu teori yang dikemukakan untuk menjelaskan asal mula yang paling mula adalah Oscillating Universe (Pergerakan Alam Semesta). Banyak ilmuwan memperkirakan bahwa materi yang terkandung dalam alam semesta adalah cukup untuk mencapai suatu gaya gravitasi yang kuat, cukup besar untuk menghentikan pemuaian yang lebih lanjut, dan memulai suatu saat yang telah ditentukan dalam sejarah, membalikkan proses tersebut.
Menurut teori ini, kontraksi yang konstan pada keseluruhan alam semesta akan memuncak pada titik primordial – suatu fenomena yang dijuluki Big Crunch (Derakan Besar). Dari saat ini (secara teoritis tentunya) alam semesta secara harafiah akan tetap berjalan dengan cara yang sama, dengan adanya satu Big Bounce (Lambungan Besar), dikatakan sebagai, sebuah Big Bang yang baru.
Teori ini membawa kita pada pertanyaan: apakah rangkaian peristiwa luar biasa yang menguasai siklus atas segala sesuatu dalam alam semesta ini (kebangkitan-kemerosotan-kehancuran) akan terulang terus selamanya, dan apakah akan terus mengikuti pola yang sama, kembali pada masa lampau yang jauh.
Walaupun teori Oscilatting Universe pernah ditolak sebagai ganti dari model alam semesta yang lain, tapi penelitian yang dilakukan baru-baru ini lebih mempercayai kebenaran teori ini. Peneliti dari Penn State University, menggunakan perhitungan gravitasi kuantum, telah berspekulasi tentang sejarah kemungkinan adanya alam semesta sebelum Big Bang.
Menurut perhitungan ini, sebelum Big Bang, memang telah ada suatu keadaan ruang waktu yang sama seperti yang kita miliki, hanya saja ia mengalami tahapan kontraksi. Diperkirakan bahwa gaya gravitasi menarik alam semesta ke dalam sampai mencapai titik dimana properti kuantum ruang waktu menyebabkan gravitasi menjadi semakin padat, dan menciptakan Big Bang yang diperkirakan saat ini akan kita alami.
Bisa jadi variasi dari kosmologikal konstan alfa, suatu fakta aneh yang telah diungkap ilmuwan beberapa tahun ini, berhubungan dengan materi pada alam semesta sebelumnya. Nilai abstrak (alfa) ini — yang dipakai sebagai parameter dalam hukum universal yang membolehkan atom tetap berada pada keadaan menyatu, yang sekaligus juga menggaris bawahi hukum kimia yang telah kita pahami—tidak serupa dengan apa yang kita harapkan dari alam semesta yang tua ini.
Menurut nilai alpha saat ini, alam semesta seharusnya 14 milyaran tahun lebih tua, dan materi seharusnya lebih memancar daripada kondisi yang terkesan saat ini.
Meski begitu, teori siklus ini dapat menjelaskan dengan baik keganjilan dari kestabilan alfa ini. Paul Steinhardt dari Universitas Princeton dan ahli fisika tafsir Neil Turok dari Universitas Cambridge, Inggris, percaya bahwa ia telah eksis sebelum alam semesta kita, tentunya masih ada cukup waktu bagi nilai terukur sehingga menjadi seperti sekarang ini.
Membangun ide mereka dari perspektif teori String dan teori M, Turok dan Steinhardt berpendapat bah-wa Big Bang sebetulnya bukanlah suatu kejadian yang unik, tetapi hanya merupakan akhir dari sebuah garis panjang tabrakan-tabrakan, yang muncul secara periodik ketika pemuaian alam semesta telah mencapai limitnya.
Asal mula yang hebat dan keterbatasan sains
Seandainya teori tentang alam semesta yang mengalami siklus berulang-ulang telah terbukti, atau bila kita telah menemukan bahwa dunia kita berasal dari Big Crunch yang terjadi sebelumnya, tetapi asal mula dari siklus ledakan-ledakan dan kontraksi-kontraksi yang tak terbatas itu akan tetap merupakan misteri.
Model dari siklus kosmik yang diutarakan dalam Big Bounce tidak memiliki titik akhir, tapi tidakkah ia memiliki sebuah awal? Apakah asal mula ini menjadi sebuah garis pembatas antara sains dan religi? Apakah faktor “keTuhanan” yang akhirnya akan menggarisbawahi asal mula ruang dan waktu, ataukah suatu hari nanti kita akan mampu menjelaskan segala sesuatu, dan penyebab Big Bang, dengan cara yang sepenuhnya berbau sains?
Iptek jaman sekarang telah menuntun kita pada perhitungan-perhitungan yang hasilnya mendekati unsur-unsur pokok dari Big Bang. Tetapi, di luar perhitungan-perhitungan yang makin rumit ini, apakah kita benar-benar telah menjadi lebih tahu dengan apa yang sesungguhnya terjadi.
Masih ada kemungkinan yang amat besar bahwa manusia tidak akan pernah boleh tahu akan kebenaran sejati. Dan meski banyak ilmuwan yang percaya bahwa alam semesta yang kita huni tidak mungkin mengandung apapun yang melebihi hal-hal yang dapat dijelaskan secara sains, tetapi pada suatu waktu nanti umat manusia adakalanya akan menyerah pada godaan dalam menjawab pertanyaan yang diajukan pada diri mereka sendiri, atas apa yang dapat menyebabkan sesuatu terjadi. (den)Sumber : http://erabaru.or.id/200902101160/adakah-alam-semesta-sebelum-big-bang.html

19 Juni 2009

Misteri Dimensi Waktu

Kehidupan kita di dunia ini tidak pernah bisa dilepaskan dari waktu. Waktu menghantarkan kita dalam menjalani kehidupan dari awal kejadian kita di rahim ibu hingga akhir hayat kita. Setiap adegan dalam kehidupan kita sebagian besar diukur berdasarkan waktu. Lama, sebentar, lambat, cepat, tua, muda, kemarin, hari ini, akan datang, masa lalu dan masa depan, adalah ukuran-ukuran berdasarkan waktu yang diterjemahkan dalam bentuk kata keterangan waktu.
Disebabkan oleh waktu, kita bisa menjadi tua, peralatan menjadi rusak, pertanyaan bertemu dengan jawabannya, permasalahan menjadi tuntas, kebohongan terbongkar, kejahatan terungkap, dan kebenaran menampakkan diri.
Tetapi tahukah Wikimuers bagaimanakah gambaran waktu itu? Di manakah posisi dimensi waktu di dalam dimensi ruang? Berikut ini adalah beberapa penjelasan tentang waktu yang mungkin sedikit memperjelas misteri tentang waktu dalam kehidupan kita.
1. Garis waktu tidak linier
Seperti diketahui dimensi ruang terdiri atas tiga dimensi linier (garis lurus), yakni panjang, lebar dan tinggi. Sedangkan dimensi waktu digambarkan melengkung ke dalam dimensi ruang dan garis waktu berbentuk spiral (per) dengan salah satu sisi putarannya bersentuhan dengan sebuah titik di dimensi ruang.

Pada gambar dimensi ruang diwakili oleh sebuah garis horizontal dan dimensi waktu oleh garis vertikal, di mana spiral waktu berputar dengan salah satu sisi spiralnya menyentuh sebuah titik di garis linier dimensi ruang pada titik A. Titik A tersebut adalah titik saat ini, sedangkan putaran spiral yang meninggalkan titik adalah masa lalu, dan putaran spiral yang menuju titik adalah masa depan. Bagian titik saat ini (Titik A) berada di dalam dimensi ruang dan waktu yang positif, sedangkan bagian spiral yang lain berada di dimensi ruang dan waktu yang negatif. (Lihat gambar)
2. Di alam semesta hanya ada waktu sekarang
Waktu di bumi kita disepakati adalah 24 jam dalam sehari semalam. Pembagian waktu ini berdasarkan besar sudut rotasi bumi pada sumbunya sebesar 360 yang dibagi derajat bujur bumi sebesar 15 derajat, sehingga setiap 15 derajat garis bujur bumi mendapatkan kenaikan waktu sebesar 1 jam.
Kita menggunakan tanda waktu sebagai ukuran waktu keberadaan kita di dalam dimensi ruang. Salah satu contohnya adalah tanggal lahir kita yang memuat unsur tahun, bulan, hari atau tanggal dan jam serta menit. Tanda waktu ini diakui sebagai ukuran universal dan ditetapkan dalam bentuk perhitungan kalender dan jam.
Tanda waktu ini kemudian dibagi ke dalam tiga ukuran waktu terbesar, yakni kemarin, hari ini dan besok. Bagi kita kemarin adalah tanda waktu berupa tanggal yang telah lewat satu hari dari hari ini, dan besok adalah satu hari menyusul setelah hari ini. Namun sebetulnya menurut ukuran dalam dimensi waktu, kemarin juga berarti 1 jam yang lalu, 1 menit yang lalu, 1 detik yang lalu, dan seterusnya hingga 1 per sekian (tidak terhingga) detik yang lalu. Begitu juga halnya dengan besok. Sedangkan pengertian hari ini atau lebih tepat di sebut sekarang memiliki skala ukuran waktu yang juga sangat sempit tidak berhingga, yakni sampai 1 per sekian (tidak berhingga) detik.
Apabila kita memperhatikan gambar penampang spiral waktu, maka titik A adalah titik persinggungan spiral dimensi waktu dengan garis lurus dimensi ruang. Titik A tersebut adalah waktu sekarang bagi titik di dalam dimensi ruang tersebut. Sedangkan waktu yang lalu adalah putaran spiral yang setelah titik A, dan waktu yang akan datang adalah putaran spiral yang akan melalui titik A. Perhatikan waktu yang lalu dan waktu yang akan datang berada di bagian negatif dari dimensi ruang dan waktu, sedangkan waktu sekarang berada di bagian positifnya.
3. Setiap orang mempunyai paket waktu sendiri
Setiap titik di dalam dimensi ruang mempunyai spiral waktunya sendiri-sendiri. Begitu juga setiap manusia, setiap organ dalam tubuhnya, setiap sel, dan seterusnya. Bayangkan bahwa setiap spiral waktu tersebut tidak berputar secara bersamaan.
Seandainya kita bandingkan dua orang dengan usia yang sama A dan B sedang berada di dimensi ruang. Putaran spiral waktu A lebih cepat dari pada B sebanyak 1 jam, berarti waktu yang dibutuhkan A untuk menempuh suatu jarak di dalam dimensi ruang 1 jam lebih cepat dari B. Itu artinya usia A akan relatif lebih muda 1 jam dari pada B.
Begitu juga dengan spiral waktu organ tubuh, sel sampai atom di tubuh kita. Semakin cepat putaran spiral waktunya, akan semakin banyak umur yang diberi diskon. Itulah sebabnya kenapa orang yang tingkat spiritualitasnya tinggi cenderung terlihat lebih muda dan berumur panjang. Tingkat konsentrasi ke dimensi yang lebih tinggi relatif meningkatkan putaran spiral waktu. Selain itu melemahnya pengaruh gravitasi juga ikut mempercepat putaran spiral waktu. Ini bisa dilihat pada orang-orang yang tinggal di pegunungan tinggi relatif berumur lebih panjang dan awet muda. Pendeta-pendeta Tibet memperoleh dua keuntungan ini, selain mereka sering bermeditasi, mereka juga tinggal di pegunungan Himalaya yang sangat tinggi dari permukaan laut.
4. Jarum jam di tanganmu bukan penunjuk waktu sebenarnya
Putaran spiral waktu alam semesta yang sangat besar tidak sama dengan putaran spiral waktu bumi dan diri kita. Jarum jam yang sering digunakan sebagai penunjuk waktu dalam kehidupan kita sehari-hari adalah jarum jam untuk bumi karena berdasarkan putaran rotasi bumi pada sumbunya. Sedangkan alam semesta maupun diri kita mempunyai jamnya sendiri.
Ini terbukti apabila kita menunggu berjam-jam di dalam suatu antrian misalnya, anda merasa 2 jam sangat lama dan membosankan karena tidak melakukan apa pun. Sedangkan bagi teman di sebelah anda yang sedang asyik main game dari konsul portabelnya merasa waktu hanya sebentar saja. Dan bonus tambahan untuk teman anda yang hatinya senang adalah berupa diskon umur lebih panjang dari kita yang merasa kesal dan bosan.
5. Putaran waktu sekarang lebih cepat dibandingkan masa lalu
Banyak orang berkata bahwa di masa kini waktu terasa sangat cepat berlalu dibandingkan sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Setahun seperti hanya enam bulan, sebulan seperti beberapa hari, sehari seperti beberapa jam dan satu jam berlalu dalam sekejap!
Apakah yang menyebabkan waktu berlalu sangat cepat seperti itu? Dan kenapa kita semua merasakan hal yang sama?
Jawabannya adalah karena alam semesta mengalami pengerutan. Akibatnya spiral waktu juga mengalami pengerutan. Ingat contoh penerapan asas gaya sentrifetal. Kita mengikat sebuah batu pada tali kemudian memutarnya mengelingi jari telunjuk kita. Semakin pendek jarak batu dengan titik pusat jari kita semakin cepat putaran batu.
Demikian yang terjadi dengan spiral waktu alam semesta. Dan percepatan spiral waktu alam semesta ini berpengaruh kepada spiral waktu yang lebih kecil seperti spiral waktu bumi dan diri kita, disebabkan ada tekanan ruang.
6.Wilayah dimensi lain juga memiliki spiral waktunya sendiri
Setiap dimensi memiliki spiral waktunya sendiri, dengan kecepatan putaran yang berbeda-beda. Semakin tinggi dimensinya, semakin cepat putaran spiral waktunya. Bisa dibandingkan 1000 tahun di bumi nilainya sama dengan 1 hari di dimensi tertinggi (alam akhirat). Artinya manusia di bumi dengan kecepatannya membutuhkan waktu 1000 tahun untuk menyelesaikan satu putaran spiral waktu di dimensi tertinggi. Atau kalau makhluk di dimensi tertinggi tersebut menggunakan kecepatannya untuk menyelesaikan sebuah perjalanan yang ditempuh oleh manusia selama satu hari di bumi, maka dia hanya membutuhkan 1/365.000 atau 2,7 x 10-6 hari atau sekitar 0,24 detik.

18 Juni 2009

Ahlak indah: Sumber cinta sejati

Ketika seseorang yang berakal sehat memilih calon pasangan hidup, dan disajikan banyak nama (hanya nama), tentu yang menjadi kandidat adalah yang memiliki nama-nama paling indah. Tetapi setelah diperdengarkan alunan suaranya, tentu yang dipilih adalah yang mempunyai suara paling lembut dan merdu. Dan setelah diperlihatkan wajah dari para calon tersebut, maka yang akan dipilih adalah yang paling cantik dan menarik. Namun, ketika diperlihatkan perangai dan ahlak mereka yang sesungguhnya, maka siapa yang akan terpilih ? Tentunya yang terpilih adalah calon yang berperangai terbaik. Calon yang berahlak paling mulia. Ya, ahlak mulia. Dan dari empat sebab seorang wanita dinikahi (Karena hartanya, karena kecantikannya, karena keturunannya dan karena agamanya) Islam memberi petunjuk bahwa syarat agama yang baik merupakan syarat utama yang tak dapat ditawar. Agama yang baik adalah ahlak yang baik. Ahlak adalah sesuatu yang diciptakan oleh manusia. Diantaranya meliputi pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan. Seorang yang baik agamanya, akan selalu taat menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Pikirannya selalu mengarah pada kebaikan. Perasaannya selalu terjaga dari prasangka buruk terhadap Allah dan orang lain. Lisannya menghasilkan perkataan yang benar, bermanfaat dan menyejukkan bagi orang-orang sekitarnya. Dan setiap perbuatannya tak lain hanyalah kebaikan yang menyebarkan kemaslahatan bagi masyarakat. Manusia dikaruniai oleh Allah dua mata. Yakni mata kepala dan mata hati. Mata kepala dipuaskan oleh wajah dan fisik nan indah (cantik atau tampan) dan mata hati dipuaskan oleh ahlak yang baik. Tentu saja, idealnya pasangan hidup yang baik adalah yang berahlak baik dan berwajah cantik. Adapun, jika seorang pemuda mencintai atau memilih isteri hanya karena wajahnya cantik, padahal agama (ahlaknya) tidak baik, maka cinta yang demikian itu adalah cinta yang bersumberkan nafsu. Cinta ragawi. Cinta yang semu. Cinta yang fatamorgana. Kenapa semu ? Karena kesenangan indera mata hanya sebentar. Setelah itu, pasangannya yang berahlak buruk itu akan membuatnya tidak bahagia. Ucapan, sikap dan perbuatannya tidak membuatnya ridho. Tidak membuatnya senang. Dan membuat mereka berdua tidak semakin mendekati jalur kebaikan (agama). Akan tetapi jika pemuda itu memilih pendamping yang berahlak baik, meskipun wajahnya tidak terlalu cantik, maka ahlak yang baik ini membuatnya ridho. Sikap, ucapan dan perbuatannya membuatnya senang. Dan karena ahlaknya baik, wajah isterinya itupun semakin lama akan semakin menarik dan cantik. InsyaAllah. Oleh karena itu, wahai pemuda, tempatkanlah kriteria agama (ahlak baik) ini sebagai kriteria pertama dan utama untuk meraih kebahagiaan di dunia dan di aherat. Lalu bagaimana cara mendapatkan pendamping yang berahlak baik ini ? Sangat mudah!. Perbaikilah agama dan ahlakmu sendiri. Taatilah perintah agama dan jauhi larangannya. Perbagus ucapan, sikap dan perbuatanmu kepada siapapun. Isilah hari-hari dengan kegiatan yang bermanfaat dan memiliki nilai investasi aherat. Karena sesuai dengan janji Allah, pemuda yang baik akan mendapatkan pemudi yang baik pula. Dan pemuda yang tidak baik akan mendapatkan pemudi yang tidak baik pula . Setelah engkau menjadi pribadi yang shaleh dan taat beragama, maka InsyaAllah, Allah akan menuntun pikiran dan hatimu bagaimana mendapatkan pendamping hidup yang baik pula. Persuaan dua sukma yang mulia…Begitulah arti cinta sesungguhnyaLaksana penyatuan air dan gulaAkan tecipta wujud yang berbedaWujud yang lebih bermakna…Perjumpaan dua ahlak indah ini akan menjadikan pemiliknya pribadi yang baru. Lebih bahagia. Saling melengkapi dan menutup kekurangan-kekurangan yang manusiawi. Dan tentu saja, hidupnya akan lebih kaya makna.

Disarikan dari berbagai sumber

27 Mei 2009

Cinta Sejati itu........

“Saudaraku, mari kita bicara tentang cinta. Cinta apa yang kau miliki?” Merasa diri ini memang belum paham apa makna cinta yang sebenarnya, maka aku dengarkan baik-baik setiap hikmah yang menyemburat seperti cahaya.
Saudaraku, kamu harus membuka hatimu lebar-lebar agar bisa menangkap esensi cinta yang akan aku sampaikan. Simpan pertanyaanmu untuk nanti, karena setiap pertanyaan itu terlahir dari akal. Seperti langit, akal melayang tinggi di atas bumi tempatmu berpijak. Dan kau pun akan jauh dari hati pijakanmu, satu-satunya titik yang mampu menangkap esensi cinta.Lihat batang bunga mawar itu. Dia punya potensi untuk mempersembahkan bunga merah dan harum yang semerbak. Namun jika batang itu tak pernah ditanam, tak akan pernah mawar itu menghiasi kebunmu. Maka, hanya dengan membuka diri untuk tumbuhnya akar dan daun lah, batang mawar itu akan melahirkan bunga mawar yang harum. Demikian juga dengan hatimu, saudaraku. Kau harus membukanya, agar potensi cinta yang terkandung di dalamnya bisa merekah, lalu menyinari dunia sekitarmu dengan kedamaian.
Saudaraku, begitu sering kau bicara tentang cinta. Cinta kepada istri, cinta kepada anak, cinta kepada agama, cinta kepada bangsa, cinta kepada filosofi, cinta kepada rumah, cinta kepada kebenaran, cinta kepada Tuhan. Apakah isi, atau esensi, dari cintamu itu? Kau bilang itu cinta suci, cinta sejati, cinta yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam, cinta sepenuh hati, cinta pertama… Apakah benar begitu, saudaraku?
: : : : : : : :
Mungkin di desamu kau punya seekor kuda. Begitu sayangnya kau pada kuda itu. Setiap hari kau beri makan, minum, kau rawat bulunya, kau bersihkan, kau ajak jalan-jalan. Seolah kuda itu telah menjadi bagian dari hidupmu, seperti saudaramu. Kau mencintai kuda itu sepenuh hati. Namun, suatu ketika datang orang yang ingin membelinya dengan harga yang fantastis. Hatimu goyah, dan kau pun menjualnya. Cintamu tidak sepenuh hati, karena kau rela menjual cinta. Kau mencintai kuda, karena kegagahannya membuatmu bangga dan selalu senang ketika menungganginya. Namun, ketika datang harta yang lebih memberikan kesenangan, kau berpaling. Kau cinta karena kau mengharapkan sesuatu dari yang kau cintai. Kau cinta kudamu, karena mengharapkan kegagahan. Cintamu berpaling kepada harta, karena kau mengharapkan kekayaan. Ketika keadaan berubah, berubah pula cintamu.
Kau sudah punya istri. Begitu besar cintamu kepadanya. Bahkan kau bilang, dia adalah pasangan sayapmu. Tak mampu kau terbang jika pasangan sayapmu sakit. Cintamu cinta sejati, sehidup semati. Namun, ketika kekasihmu sedang tak enak hati yang keseratus kali, kau enggan menghiburnya, kau biarkan dia dengan nestapanya karena sudah biasa. Ketika dia sakit yang ke lima puluh kali, perhatianmu pun berkurang, tidak seperti ketika pertama kali kau bersamanya. Ketika dia berbuat salah yang ke sepuluh kali, kau pun menjadi mudah marah dan kesal. Tidak seperti pertama kali kau melihatnya, kau begitu pemaaf. Dan kelak ketika dia sudah keriput kulitnya, akan kan kau cari pengganti dengan alasan dia tak mampu mendukung perjuanganmu lagi? Kalau begitu, maka cintamu cinta berpengharapan. Kau mencintainya, karena dia memberi kebahagiaan kepadamu. Kau mencintainya, karena dia mampu mendukungmu. Ketika semua berubah, berubah pula cintamu.
Kau punya sahabat. Begitu sayangnya kau kepadanya. Sejak kecil kau bermain bersamanya, dan hingga dewasa kau dan dia masih saling membantu, melebihi saudara. Kau pun menyatakan bahwa dia sahabat sejatimu. Begitu besar sayangmu kepadanya, tak bisa digantikan oleh harta. Namun suatu ketika dia mengambil jalan hidup yang berbeda dengan keyakinanmu. Setengah mati kau berusaha menahannya. Namun dia terus melangkah, karena dia yakin itulah jalannya. Akhirnya, bekal keyakinan dan imanmu menyatakan bahwa dia bukan sahabatmu, bukan saudaramu lagi. Dan perjalanan kalian sampai di situ. Kau mencintainya, karena dia mencintaimu, sejalan denganmu. Kau mendukungnya, mendoakannya, membelanya, mengunjunginya, karena dia seiman denganmu. Namun ketika dia berubah keyakinan, hilang sudah cintamu. Cintamu telah berubah.
Kau memegang teguh agamamu. Begitu besar cintamu kepada jalanmu. Kau beri makan fakir miskin, kau tolong anak yatim, tak pernah kau tinggalkan ibadahmu, dengan harapan kelak kau bisa bertemu Tuhanmu. Namun, suatu ketika orang lain menghina nabimu, dan kau pun marah dan membakar tanpa ampun. Apakah kau lupa bahwa jalanmu mengajak untuk mengutamakan cinta dan maaf? Dan jangankan orang lain yang menghina agamamu, saudaramu yang berbeda pemahaman saja engkau kafirkan, engkau jauhi, dan engkau halalkan darahnya. Bukankah Tuhanmu saja tetap cinta kepada makhluk-Nya yang seperti ini, meskipun mereka bersujud atau menghina-Nya? Kau cinta kepada agamamu, tapi kau persepsikan cinta yang diajarkan oleh Tuhanmu dengan caramu sendiri.
Saudaraku, selama kau begitu kuat terikat kepada sesuatu dan memfokuskan cintamu pada sesuatu itu, selama itu pula kau tidak akan menemukan True Love. Cintamu adalah Selfish Love, cinta yang mengharapkan, cinta karena menguntungkanmu. Cinta yang akan luntur ketika sesuatu yang kau cintai itu berubah. Dengan cinta seperti ini kau ibaratnya sedang mengaspal jalan. Kau tebarkan pasir di atas sebuah jalan untuk meninggikannya. Lalu kau keraskan dan kau lapisi atasnya dengan aspal. Pada awalnya tampak bagus, kuat, dan nyaman dilewati. Setiap hari kendaraan lewat di atasnya. Dan musim pun berubah, ketika hujan turun dengan derasnya, dan truk-truk besar melintasinya. Lapisannya mengelupas, dan lama-lama tampak lah lobang di atas jalan itu. Cinta yang bukan True Love, adalah cinta yang seperti ini, yang akan berubah ketika sesuatu yang kau cintai itu berubah. Kau harus memahami hal ini, Saudaraku.
: : : : : : : :
Sekarang lihatlah, bagaimana Tuhanmu memberikan cinta-Nya. Dia mencintai setiap yang hidup, dengan cinta (rahmaniyyah) yang sama, tidak membeda-bedakan. Manusia yang menyembah-Nya dan manusia yang menghina-Nya, semua diberi-Nya kehidupan. Kekuasaan-Nya ada di setiap yang hidup. Dia tidak meninggalkan makhluk-Nya, hanya karena si makhluk tidak lagi percaya kepadanya. Jika Dia hanya mencintai mereka yang menyembah-Nya saja, maka Dia pilih kasih, Dia memberi cinta yang berharap, mencintai karena disembah. Dia tidak begitu, dia tetap mencintai setiap ciptaan-Nya. Itulah True Love. Cinta yang tak pernah berubah, walau yang dicintai berubah. Itulah cinta kepunyaan Tuhan. Saudaraku, kau harus menyematkan cinta sejati ini dalam dirimu. Tanam bibitnya, pupuk agar subur, dan tebarkan bunga dan buahnya ke alam di sekitarmu.
Dan kau perlu tahu, saudaraku. Selama kau memfokuskan cintamu pada yang kau cintai, maka selama itu pula kau tak akan pernah bisa memiliki cinta sejati, True Love. Cinta sejati hanya kau rasakan, ketika kau melihat Dia dalam titik pusat setiap yang kau cintai. Ketika kau mencintai istrimu, bukan kecantikan dan kebaikan istrimu itu yang kau lihat, tapi yang kau lihat “Ya Allah! Ini ciptaan-Mu, sungguh cantiknya. Ini kebaikan-Mu yang kau sematkan dalam dirinya.” Ketika kau lihat saudaramu entah yang sejalan maupun yang berseberangan, kau lihat pancaran Cahaya-Nya dalam diri mereka, yang tersembunyi dalam misteri jiwanya. Kau harus bisa melihat Dia, dalam setiap yang kau cintai, setiap yang kau lihat. Ketika kau melihat makanan, kau bilang “Ya Allah, ini makanan dari-Mu. Sungguh luar biasa!” Ketika kau melihat seekor kucing yang buruk rupa, kau melihat kehidupan-Nya yang mewujud dalam diri kucing itu. Ketika kau mengikuti sebuah ajaran, kau lihat Dia yang berada dibalik ajaran itu, bukan ajaran itu yang berubah jadi berhalamu. Ketika kau melihat keyakinan lain, kau lihat Dia yang menciptakan keyakinan itu, dengan segala rahasia dan maksud yang kau belum mengerti.
Ketika kau bisa melihat Dia, kemanapun wajahmu memandang, saat itulah kau akan memancarkan cinta sejati kepada alam semesta. Cintamu tidak terikat dan terfokus pada yang kau pegang. Cintamu tak tertipu oleh baju filosofi, agama, istri, dan harta benda yang kau cintai. Cintamu langsung melihat titik pusat dari segala filosofi, agama, istri, dan harta benda, dimana Dia berada di titik pusat itu. Cintamu langsung melihat Dia.
Dan hanya Dia yang bisa memandang Dia. Kau harus memahami ini, saudaraku. Maka, dalam dirimu hanya ada Dia, hanya ada pancaran cahaya-Nya. Dirimu harus seperti bunga mawar yang merekah. Karena hanya saat mawar merekah lah akan tampak kehindahan di dalamnya, dan tersebar bau wangi ke sekitarnya. Mawar yang tertutup, yang masih kuncup, ibarat cahaya yang masih tertutup oleh lapisan-lapisan jiwa. Apalagi mawar yang masih berupa batang, semakin jauh dari terpancarnya cahaya. Bukalah hatimu, mekarkan mawarmu.
Saudaraku, hanya jiwa yang telah berserah diri sajalah yang akan memancarkan cahaya-Nya. Sedangkan jiwa yang masih terlalu erat memegang segala yang dicintainya, akan menutup cahaya itu dengan berhala filosofi, agama, istri, dan harta benda. Lihat kembali, anakku, akan pengakuanmu bahwa kau telah berserah diri. Lihat baik-baik, teliti dengan seksama, apakah pengakuan itu hanya pengakuan sepihak darimu? Apakah Dia sudah membenarkan pengakuanmu? Ketika kau bilang “Allahu Akbar,” apakah kau benar-benar sudah bisa melihat ke-”akbar”-an Dia dalam setiap yang kau lihat?
Jika kau masih erat mencintai berhala-berhalamu, maka sesungguhnya jalanmu menuju keberserahdirian masih panjang. Jalanmu menuju keber-”Islam”-an masih jauh di depan. Kau masih harus membuka kebun bunga mawar yang terkunci rapat dalam hatimu. Dan hanya Dia-lah yang memegang kunci kebun itu. Mintalah kepada-Nya untuk membukanya. Lalu, masuklah ke dalam taman mawarmu. Bersihkan rumput-rumput liar di sana, gemburkan tanah, sirami batang mawar, halau jauh-jauh ulat yang memakan daunnya. Kemudian, bersabarlah, bersyukurlah, dan bertawakkal-lah. Insya Allah, suatu saat, jika kau melakukan ini semua, mawar itu akan berbunga, lalu merekah menyebarkan bau harum ke penjuru istana.
Semoga Allah membimbingmu, Saudaraku

26 Mei 2009

Cinta dan Pernikahan

Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta?
Bagaimana saya menemukannya?
Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta” .
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?” Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja,dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”.
Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”
Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”
Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya,”Apa itu perkawinan?
Bagaiman a saya bisa menemukannya?” Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu? Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”
Gurunya pun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”
Cinta, semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, kita dapatkan ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih.
Ketika pengharapan dan keinginan berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan, tidak ada sesuatupun yang didapatkan.
Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Ketika kita menemukan cinta, terimalah cinta apa adanya.bukan yang sempurna tapi yang bisa menyejukan jiwa. Jadikan hati sebagai ukuran!
Pernikahan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kita mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kita dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkan pernikahan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu tidak bisa kita miliki.
Hidup adalah pilihan, terlalu banyak pilihan yang harus dipilih, setiap orang punya ukuran sendiri dalam memilih.
Yang terbaik adalah bersyukur! Semoga petunjuk- Nya selalu bersama kita.

Disarikan dari berbagai sumber